Jumat, 06 Januari 2012

PENDIDIKN YANG IDEAL Oleh: Siti Amianh dan Heriyawan


BAB I
Pendahuluan
Pendidikan adalah masalah yang paling penting untuk diperhatikan bersama oleh semua pihak, baik pemerintah, orang tua maupun masyarakat. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan pokok manusia kapan dan di manapun.  Tanpa pendidikan manusia tidak akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Manusia diberikan kelebihan akal oleh Allah SWT. untuk berpikir dan berkembang serta kebudayaan yang tinggi dibandingkan dengan makhluk lain, karena itu pendidikan merupakan sarana yang paling tepat untuk membina dan mendidik hingga pada akhirnya terjadi keseimbangan antara aspek fisik dan mental.
Islam mengehendaki pengetahuan yang benar-benar dapat membantu mencapai kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia. Yaitu pengetahuan terkait urusan duniawi dan ukhrowi, yang dapat menjamin kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia di dunia dan di akhirat.




BAB II
Pembahasan
A.    Pengertian, Dasar-Dasar, Dan Tujuan Pendidikan Islam
1.      Pengertian Pendidikan Islam
Dalam Bahasa Arab ada beberapa istilah yang biasa digunakan dalam pengertian pendidikan.  Kata “pendidikan” yang umum kita gunakan sekarang, dalam bahasa Arabnya adalah  tarbiah, dengan kata kerja rabba (mendidik), dan kata kerja ini sudah digunakan pada zaman Nabi S.A.W. seperti yang tercantum dalam surah al-Qur’an:
  Éb>§ $yJßg÷Hxqö$# $yJx. ÎT$u­/u #ZŽÉó|¹ ÇËÍÈ  
"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al-Isra’: 24).
Dalam bentuk kata benda, kata rabba ini di gunakan juga untuk Tuhan, mungkin karena Tuhan juga bersifat mendidik, mengasuh, memelihara, dan malah mencipta.
Selain kata Tarbiyah (rabba) yang mengandung arti pendidikan, terdapat juga kata lain  seperti: ta'lim (‘allama) dan ta’dib (addaba).[1]

Menurut Al-Baidhawi tarbiah berarti : pendidikan, yang ialah menyampaikan sesuatu secara tahap demi tahap menuju kesempurnaan.[2] Dan menurut M.J.Langeveid, pendidikan merupakan upaya manusia dewasa membimbing yang belum kepada kedewasaan.[3]
Sedangkan mengenai pengertian pendidikan Islam, para ahli didik Islam sering berbeda pendapat:
a.      Menurut Drs. Ahmad D. Marimba, Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani, rohani, berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama (kepribadian muslim) menurut ukuran-ukuran Islam.
b.      Menurut Drs. Burlian Somad, Pendidikan Islam ialah pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri, berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya untuk mewujudkan tujuan itu adalah ajaran Allah.
c.       Sedangkan menurut Musthafa Al-Ghulayaini, bahwa Pendidikan Islam ialah menanamkan akhlak yang mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasihat, sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemampuan (meresap dalam) jiwanya, kemudian buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk kemanfaatan tanah air.
d.      Menurut Syah Muhammad A. Naquib Al-Atas: Pendidikan Islam ialah usaha yang dilakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian.
Dari uraian di atas, bahwa para ahli didik Islam berbeda pendapat. Sebagian ada yang menitikberatkan pada segi pembentukan akhak anak, sebagian lagi menuntut pendidikan teori dan pratek, dan sebagian lainnya menghendaki terwujudnya kepribadian muslim, dan lain-lain. Namun dari perbedaan pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan adanya titik persamaan yang secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut: Pendidikan Islam ialah bimbingan yang dilakukan oleh seorang dewasa kepada terdidik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian muslim.[4]
2.      Dasar-Dasar Pendidikan Islam
Dasar pendidikan Islam secara garis besar ada 3, yaitu: Al-Qur’an, As-Sunah dan perundang-undangan yang berlaku di negara kita.
a.      Al-Qur’an
Islam ialah agama yang membawa misi agar umatnya menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran. Ayat al-Qur’an yang pertama kali turun ialah berkenaan (di samping masalah) keimanan dan juga pendidikan. Allah Ta’la berfirman :
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ 
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq ayat 1-5).
Ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa (seolah-olah) Tuhan berkata, hendaklah manusia meyakini akan adanya Tuhan Pencipta manusia (dari segumpal darah). Selanjutnya, untuk memperkukuh keyakinannya dan memeliharanya agar tidak luntur, hendaklah melaksanakan pendidikan dan pengajaran. Disamping itu banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menyinggung pendidikan, antara lain: Surah al-Baqarah ayat 31, 129 dan 151, surah Ali Imran ayat 164, surah al-Jumuah ayat 2 dan sebagainya.
b.      As-Sunnah
Rasulullah SAW menyatakan bahwa beliau adalah juru didik. Dan juga Rasulullah menjunjung tinggi pada pendidikan Islam dan memotivasi agar berkiprah pada pendidikan dan pengajaran.
Rasulullah SAW sendiri pernah memerintahkan kepada orang-orang kafir yang tertawan dalam perang Badar, apabila ia ingin bebas supaya terlebih dahulu mereka mau mengajar kepada 10 orang Islam. Sikap Rasulullah tersebut merupakan fakta bahwa Islam sangat mementingkan adanya pendidikan dan pengajaran.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَتَمَ عِلْمًا اَلْجَمَهُ اللهُ بِلِجَامٍ مِنَ النَّارِ.
“Siapa orangnya yang menyembunyikan ilmunya maka Tuhan akan mengekangnya dengan kekang berapi.” (HR. Ibnu Majah).
Dari hadits ini dapat diambil kesimpulan bahwa Rasulullah SAW mewajibkan umatnya untuk menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran.
c.       Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia
UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
a.       Pasal  11 Ayat 1 disebutkan:
“Jenis pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri atas pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik dan pendidikan profesional.”
b.      Pasal 11 ayat 6 disebutkan:
“Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan.”
Dari UU No. 2 Tahun 1989 ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan keagamaan bermaksud mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranannya sebagai pemeluk agama yang benar-benar memadai. Ilmu Pendidikan Islam termasuk ilmu praktis maka peserta didik diharapkan dapat menguasai ilmu tersebut secara penuh (teoritis dan praktis), sehingga ia benar-benar mampu memainkan peranannya dengan tepat dalam hidup dan kehidupan.[5]
3.      Tujuan Pendidikan Islam
Salah satu tujuan pendidikan Islam ialah mengembangkan manusia yang baik, yaitu manusia yang beribadah dan tunduk kepada Allah serta mensucikan diri dari dosa. Atas dasar itu, tujuan pendidikan Islam diukur antara lain dengan nilai isi pendidikannya, yaitu merealisasi tercapainya keutamaan dan kesempurnaan diri dengan jalan ma’rifat kepada Allah dan berorientasi kepada kehidupan yang baik dan utama. Isi pendidikan tersebut mencakup kepentingan manusia di dunia dan di akhirat.
Manusia sempurna ialah manusia yang berakhlak mulia serta bertingkah laku dan bergaul dengan baik. Inilah aspek penting tujuan pendidikan akhlak dalam pendidikan Islam. Namun, pada waktu yang sama, pendidikan Islam tidak menyempitkan perhatiannya pada satu aspek kepribadian individu atau masyarakat.[6]
Berbagai petunjuk al-Qur’an maupun Sunnah yang menyangkut pendidikan pada umumnya menunjukkan bahwa tujuan utama pendidikan adalah pendidikan moral (akhlak) dan pengembangan kecakapan atau keahlian. Mengenai akhlak, prinsip dan permasalahannya hampir sama untuk seluruh umat manusia sepanjang masa. Tetapi mengenai keahlian, terdapat perbedaan keperluan manusia dari satu tempat dengan tempat yang lain.[7]
B.        Pendidikan Islam Adalah Pendidikan Ideal
1.      Ciri-ciri Khas Sistem Pendidikan Islam
Islam memandang manusia secara totalitas, mendekatinya atas dasar apa yang terdapat dalam dirinya, atas dasar fitrah yang diberikan Allah kepadanya, tidak ada sedikit pun yang dibaikan dan tidak memaksakan apa pun selain apa yang dijadikan sesuai dengan fitrahnya. Oleh karena itu, tidak ada satu sistem pun yang bisa mendekati kodrat itu seperti yang dilakukan oleh Islam, atau menghasilkan sesuatu setelah dibinanya dan didudukkannya di tempat yang tepat, seperti yag dihasilkan oleh Islam.
Islam tidak hanya memberi konsumsi yang tepat kepada setiap segi manusia, tetapi juga memberi takaran bagian-bagian yang tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Dengan demikian, setelah masing-masing menerima bagiannya secara tepat dan dengan takarannya yang tepat pula, manusia bekerja dengan rajin, produktif dan gesit selama hayatnya.
Tidak ada suatu sistam lain yang mampu memberikan tarapi bagi manusia secara tepat dan menyeluruh seperti itu. Ada sistem yang hanya mempercayai satu segi manusia saja, lalu puas kalau sudah memberinya konsumsi yng dianggapnya baik.
Islam meyakini segi eksistensi manusia yang dapat melihat dengan indra apa yang berjasad dan yang tidak berjasad. Karena Islam meyakini manusia berasal dari segumpal tanah:
ÎoTÎ) 7,Î=»yz #ZŽ|³o0 `ÏiB &ûüÏÛ ÇÐÊÈ  
“Sesungguhnya Aku menciptakan manusia dari tanah.” (QS. Shad: 71)
Islam mengakui wujud manusia secara utuh, tanpa mengurangi nilainya dan merusak kemampuannya sediki pun. Ia memperkenankan kebutuhan dan kehendaknya. Oleh sebab itu ia memenuhi kebutuhan makan, pakaian, tempat tinggal, seksual, dan harta yang diperlukan. Ia mendukung penuh daya-dayanya untuk bekerja, membangun, menciptakan tatanan-tatanan dan mengembangkan kebudayaan.
Disamping itu, Islam juga meyakini adanya unsur rohani manusia dan meyakini bahwa dalam diri manusia terdapat hembisan roh Allah, seperti yang tercantum dalam firman-Nya:
#sŒÎ*sù ¼çmçG÷ƒ§qy àM÷xÿtRur ÏmŠÏù `ÏB ÓÇrr (#qãès)sù ¼çms9 tûïÏÉf»y ÇÐËÈ  
“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya.” (QS. Shad: 72)
Maka dari itulah, Islam mengakui kebutuhan-kebutuhan spiritual wujud manusia beserta segala daya yang terkandung di dalamnya. Ia memberikan segala yang diperlukannya seperti akidah, nilai-nilai dan harga diri, dan menyokong daya-daya yang ada padanya buat memperbaiki eksistensi mental dan kejelekan-kejelekan yang terdapat dalam masyarakat, serta menegakkan kebenaran, dan keadilan yang abadi, dengan mempertalikan eksistensi manusia itu dengan Allah dan melandaskan eksistensinya itu kepada Allah.
Dari uraian tersebut, dapat kita ketahui bahwa  metodologi Islam dalam melakukan pendidikan adalah dengan melakukan pendekatan yang menyeluruh terhadap wujud manusia, sehingga tidak ada yag tertinggal dan terabaikan sedikit pun, baik segi jasmani maupun segi rohani, baik kehidupannya secara fisik maupun kehidupannya secara mental, dan segala kegiatannya di bumi ini.[8]
2.      Kesetaraan Gender Dalam Pendidikan
Dalam hal belajar, Islam tidak pernah membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Sabda Nabi S.A.W:
طَلَبَ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
“Belajar adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan”.
Tanpa perbedaan, agama Islam menganjurkan setiap laki-laki dan perempuan untuk belajar serta menggunakan ilmu yang yang dimilikinya serta berijtihad untuk menyebar luaskan ilmu tersebut. Di samping itu, Islam tidak hanya menganjurkan untuk belajar, tapi juga melakukan diskusi serta penelitian.
Rasulullah SAW memberikan hak belajar bagi kaum wanita, sebagai bukti, dalam sejarah disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah meminta kepada Shafah Al Adawiyah untuk mengajarkan membaca dan menulis kepada istri beliau Sayyidah Hafsah. Dalam hal ini terbukti bahwa pendidikan tidak hanya untuk kalangan pria tapi juga untuk wanita.
3.      Pendidikan Seumur Hidup
Konsep pendidikan seumur sudah sejak lama dipikirkan para pakar pendidikan dari zaman ke zaman. Terutama dalam Islam, sudah jauh sebelum pendidikan barat mempermasalahkannya Islam sudah mengenal dengan pendidikan seumur hidup. Hal ini dinyatakan dalam hadits Nabi SAW yang berbunyi :
اُطْلُبِ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللّحْدِ
"Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat.
Konsep tersebut lebih dikuatkan dengan terbitya buku karya Paul Lengrand yang berjudul  An Introduction To Lifelong Education pada tahun 1970. Yang kemudian dikembangkan oleh UNESCO.
Dengan demikian, pendidikan pada intinya tidak hanya berlaku selama 9 atau 12 tahun, tapi seumur hidup. Sejak baru dilahirkan sampai meninggal dunia, bahkan pendidikan berlaku sejak seseorang memilih pasangan, terjadinya pembuahan di rahim ibu dan sejak seseorang berada dalam kandungan.
Dalam Islam, seseorang yang berpendidikan memiliki kedudukan tinggi meskipun dari kalangan yang terbelakang, karena agama Islam tidak memandang kepada darah dan keturunan, tetapi lebih menekankan kepada ilmu, amal, takwa dan akhlaq. Dengan ilmu dan pendidikan, status sosial dan keturunan tidak menjadi penghalang untuk menempati kedudukan yang tinggi dalam Islam. Yang berarti, pendidikan tidak hanya untuk kalangan atas tapi untuk semua kalangan. Karena Islam merupakan agama yang universal.
Firman Allah SWT :
!$tBur š»oYù=yör& žwÎ) ZptHôqy šúüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÊÉÐÈ  
"Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS. Al Anbiya : 170)


4.      Integrasi antara Ilmu Agama dan Ilmu Umum
Al Qur’an dan as Sunnah tidak pernah membedakan antara ilmu agama dengan ilmu umum, yang ada adalah ilmu. Adanya pembagian antara ilmu agama Islam dengan ilmu umum merupakan hasil kesimpulan manusia yang mengidentifikasi ilmu berdasarkan sumber objek kajiannya. Jika yang dibahas al Qur’an dan Hadits, dengan metode ijtihad akan dihasilkan ilmu-ilmu agama seperti teologi, fikih, tafsir, hadis, tasauf dan sebagainya. Jika yang dibahas itu bumi, langit dan isinya, akan muncul ilmu umum seperti fisika, kimia, biologi, astronomi, sosiologi, sosial, ekonomi, budaya, antropologi dan sebagainya. Yang pada dasarnya ilmu-ilmu tersebut berasal dari Allah.
Dalam al Qur’an dan as Sunnah, tidak dikenal adanya pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Hal ini dapat dipahami dari ayat al Qur’an berikut.
Æ÷tGö/$#ur !$yJÏù š9t?#uä ª!$# u#¤$!$# notÅzFy$# ( Ÿwur š[Ys? y7t7ŠÅÁtR šÆÏB $u÷R9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJŸ2 z`|¡ômr& ª!$# šøs9Î) ( Ÿwur Æ÷ö7s? yŠ$|¡xÿø9$# Îû ÇÚöF{$# ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä tûïÏÅ¡øÿßJø9$# ÇÐÐÈ  
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qhasash : 77)
Oßg÷YÏBur `¨B ãAqà)tƒ !$oY­/u $oYÏ?#uä Îû $u÷R9$# ZpuZ|¡ym Îûur ÍotÅzFy$# ZpuZ|¡ym $oYÏ%ur z>#xtã Í$¨Z9$# .
“Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka". (QS. Al Baqarah : 201)
Hadits Nabi SAW :
اعْمَلْ لِدُنْيَاك كَأنَّكَ تَعِيْشُ أَبَدًا وَ اعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا.
Bekerjalah untuk kebahagiaan hidupmu di dunia seolah-olah kau hidup selamanya, dan beramal lah untuk kebahagiaanmu di akhirat seolah-olah engkau akan meninggal besok. (HR Ibn Asakir)
Rasulullah SAW bersabda :
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Siapa yang menginginkan kebahagiaan dunia, hendaklah ia berilmu, siapa yang mengingikan kebahagiaan akhirat hendaklah ia berilmu, dan siapa yang menghendaki keduanya, maka ia pun harus berilmu.”
Dari uraian diatas dapat kita ketahui bahwa, Islam mengajarkan untuk menuntut ilmu, tidak hanya ilmu agama tapi juga ilmu umum. Karena kedua hal tersebut adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan.[9]




BAB III
Kesimpulan
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang ideal, karena pendidikan Islam itu tidak lepas dari berpedoman pada Al-qur’an dan Al-hadits, keduanya itu adalah pondasi besar dalam menentukan baik buruknya suatu sistem pendidikan.
Pendidikan dalam Islam itu  tidak memandang kepada darah dan keturunan, tetapi berlaku untuk semua kalangan, baik itu laki-laki atau pun perempuan, tua atau muda, dan kaya ataupun miskin, tetapi yang lebih ditekankan adalah ilmu, amal, takwa, dan akhlak. Dan Islam pun memerintahkan untuk belajar, tidak hanya ilmu-ilmu agama tetapi juga ilmu umum.



[1] Dr. Zakiah Daradjat, dkk. Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006),  h. 25
[2] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), h. 10
[3] http:///miftah19.wordpress.com/2010/01/23/konsep-pendidikan-islam-yang-ideal/
[4] Dra. Hj. Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (IPI), Bandung: Pustaka Setia, 1997,  h. 10-12
[5] M. Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam Jilid 1, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009),  h. 28
[6] Hery Noer Aly dan Munzier S, Watak Pendidikan Islam, (Jakarta: Friska Agung Insani, 2000), h. 152
[7] Said Agil Husin Al Munawar, Aktualisasi Nilai-Nilai Qur’ani Dalam Sistem Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Perss, 2003) h. 52
[8] Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Alma’arif, 1984), h. 27-31
[9] Insanul Kamilah, dkk. Makalah Islam Menganjurkan Pendidikan Yang Merata, STAI Al Falah Banjarbaru 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar